Newest Post

Tampilkan postingan dengan label senirupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senirupa. Tampilkan semua postingan

Artikel Senirupa Frozen Emotional Attitude

|
Read More »
artikel senirupa
FROZEN EMOTIONAL ATTITUDE TEREXPRESSI PADA KREASI PARA SENIMAN YANG BERMADZHAB “ESTETISME”
TANGGAPAN atas buku: “MATAHARI MENGELILINGI BUMI”

Oleh : Dedy Suardi

A B S T R A K

Lord Brain menandaskan bahwa manusia yang tak memperhatikan lagi segi-segi moral dan spiritual dari kehidupannya karena terlampau mementingkan kehidupan lahiriah saja, merupakan manusia yang dihinggapi penyakit yang ia sebut “Frozen Emotional Attitude”. Mereka semua memerlukan re-edukasi emosional. Lantas bagaimanakah caranya memberi mereka re-edukasi emosional tersebut? Jaques Barzun menandaskan: “Restore God to the fullness of His Reality”.

Sikap batin yang beku tersebut sering melanda para seniman yang di puncak menara gading kesenimannya, secara eksklussif berkoar-koar mengatakan dengan angkuhnya bahwa seni cumalah untuk seni semata! Seni untuk kenikmatan diniawi semata! Mereka nyaris memberhalakan nilai-nilai estetis, dari mulai kaidah-kaidah estetik yang dibakukan oleh segelintir pemikir seni seperti Golden Section misalnya, hingga faham Estetisme yang menghalalkan segala cara berkesenian, kendatipun jelas-jelas melanggar norma-norma keagamaan yang dipeluknya!

Tulisan ini sekedar penggambaran kembali, betapa seni, dalam hal ini khususnya senirupa, lewat berbagai coraknya, telah mengalami perjalalan cukup panjang tatkala meronta-ronta ingin menjumpai sesuatu nilai keadiluhungan, namun pencapaian religiositas keadiluhungan transendentalnya masih perlu dipertanyakan!

Sejak Golen Section mencanangkan suatu doktrin keindahan yang membakukan bahwa bidang lima berbanding delapanlah (5:8 bagi lebar dan tinggi) yang dinilai paling estetis, maka para seniman di saat itu mulai tidur lelap dalam stagnasi kreativitasnya. Mereka  tertipu mentah-mentah oleh apa yang disebut pemaksaan citra rasa yang digaung-gaungkan oleh kepongahan kelompok seniman eksklusif yang merasa memiliki legitimasi mutlak di dalam memberikan penilaian final bagi keindahan-keindahan yang rupawi. Golden Section yang diinspirasi oleh kaidah-kaidah matematik pada konstruksi piramid di negeri Cleopatra (Mesir Kuno), ternyata telah berjaya selama dua abad lebih di dalam menularkan citra estetis yang seragam namun sempit, ke dalam dunia seni rupa yang masih terpukau oleh hal-hal yang spektakuler formal; dalam artian bahwa, yang dianggap estetis oleh orang-orang tingkat atas, secara otomatis akan menjadi patokan rasa seni bagi orang-orang  di tingkat bawah.

Golden section (kesetangkupan keemasan)  tersebut sempat dikategorikan ke dalam bentuk  estetis matematis oleh sebahagian pengamat seni yang cuma memberikan nafas lega bagi citra keindahan yang obyektif arsitektural. Padahal, bukankah seni merupakan manifestasi dari getar batin manusia yang ragam penuangannya tak mungkin dibatasi oleh takaran-takaran ruang dan waktu (termasuk proporsi bentuk dan anatomi), atau dibatasi oleh “kemestian” media dan keniscayaan teknik? Atau dalam gaya bahasa langit, bukankah seni merupakan rotasi-rotasi getar haru manusia yang diorbitkan lewat berbagai falak kreativita, yang tak puas-puasnya bergerak dan berkembang ke segala arah?

Proporsi bidang segi empat yang tinggi dan lebarnya 2:3 atau 3:5 atau 5:8 tak mungkin disetarakan dengan indahnya lengkungan pelangi di langit sore yang mempesona bagi setiap orang yang memandangnya. Perbandingan ukuran bendawi tersebut cuma sebuah alternatif saja dari jutaan alternatif yang menggenahkan perasaan manusia, sebagaimana halnya yang satu menyukai warna biru namun orang lain menyukai warna merah, dsb. Walaupun pada kenyataannya, bangunan Parthenon yang menurut kabar burung tataan arsitekturalnya menggunakan Golden Section, nyaris dikagumi setiap orang. Namun itu kan cuma kekaguman pada kedahsyatan benda-benda bersejarah saja, sebagaimana halnya tatkala kita mengagumi candi Borobudur dan Prambanan!

karya lukisan basuki abdillah

Seni adalah unik! Tatkala Basuki Abdullah lewat visi estetiknya melukiskan seorang wanita cantik yang dipercantik lagi seribu kali, sebaliknya Affandi yang telah tua renta gayeng-gayeng saja melukiskan seorang peminta-minta yang berkaki kudisan dalam kekumuhan suasana apa adanya, dengan teknik plototan catnya yang spontan dan sama-sekali tak cantik dan tak bernilai estetis.

Basuki tak mungkin memaksa perupa lain agar melukis seromatis gaya naturalistiknya, sebaliknya Affandi pun tak mungkin ingkar dari visi kesenirupaannya yang ekspressif transendental, yang senantiasa khusuk mengadakan penggalian artistik ke dalam kenyataan hidup manusia-manusia kecil dan papa. Tatkala seorang Basuki Abdullah dengan mengenakan topi baret dan safari mahal berlengan pendek tengah asyik-asyiknya melukis nyonya mentri yang pipinya moleg berkebaya brokat seharga ratusan ribu rupiah di kota metropolitan, nun jauh di sana di kota gudeg,  seorang maestro seni rupa Indonesia bernama Affandi, dengan beralaskan sehelai tikar compang-camping tengah melukis seorang wanita tua renta yang susunya peot, dengan mengenakan sarung poleng dan kaos oblong yang telah kumal.

karya lukisan affandi

Mereka berdua merupakan manusia beda yang visi berkeseniannya pun amat berbeda. Begitu pula alangkah  berbeda dengan Rembrandt van Rijn yang gemar mengemphasiskan “cahaya jendela” pada kanvas-kanvasnya, atau dengan Pablo Picasso yang doyan mengacak-ngacak anggota tubuh model-modelnya. Ternyata modal fitriyah, visi dan pewedaran batin manusia yang berbeda satu sama lain, telah memungkinkan munculnya berbagai madhab (aliran) yang sama sekali tak setangkup.

Estetisme yang jorok

Namun perbedaan visi dalam bersenirupa di kawasan bumi yang penuh dengan kechaosan batin ini, telah memunculkan seni riskan yang niscaya pula membikin tatanan rupa yang chaotik. Pengaruh Victor Cousin dengan doktrin estetisme-nya nyaris menjerumuskan para pelukis bebas ke kubangan a-moral dengan dalih seni demi seni. Pelampiasan ekspressi berkesenian telah disalahgunakan oleh beberapa “oknum” perupa yang tak lagi menggubris batas-batas moral, lebih-lebih lagi agama. Seni rupa nyaris merupakan keasyikan sanggama bebas yang tak pantas tampil di hadapan masyarakat bermoral, sebagaimana bisa kita lihat pada karya- karya Max Beckmann1 berjudul  Ville de laiton yang dibikin tahun 1944 dan Triptyque de Persee yang dibikin tahun 1941. Kendati judulnya berbeda, kedua lukisan tersebut lebih pantas disebut sekedar pelampiasan obsesi sexsualistik belaka dari seorang perupa yang kecewa dengan ”serba larang” terhadap kebebasan berekspressi. Pisau pembunuh yang tajam teremphasis dilatarbelakangi wanita bugil dalam pose yang jorok. Dari kedua lukisan yang dipajang di Saarland Museum di Sarrebruck dan Museum Folkwang di Essen tersebut terpancar kekumuhan piktura yang penuh misteri yang terlampau riskan jika dinikmati oleh para appresiator timur yang memiliki kehalusan budi.

Faham estetisme sempat membikin kejutan di sekitar tahun delapanbelasan tatkala Carl Hofer membikin lukisan jorok yang berjudul Couple. Lukisan tersebut mempertontonkan dua sejoli telanjang bulat yang tengah melampiaskan birahi. Dan setahun kemudian seniman Emil Nolde pun membikin adegan yang sama pada lukisannya yang berjudul Le reveur2, yang melukiskan wanita telanjang bulat yang tengah merayu lelaki yang berbusana lengkap. Lantas tigapulussatu tahun kemudian Marc Chagall pun dengan gaya surialistiknya membikin lukisan estetismenya yang ia juduli Les ponts de la Seine.

Dan, estetisme yang berkesan “brutal” tersebut telah pula berjangkit di kalangan para senirupawan timur termasuk Indonesia. Wanita telanjang bulat dijadikan obyek lukis yang cukup merangsang di tahun lima puluhan hingga enampuluhan. Rasanya belum tabah disebut pelukis jika belum mahir melukis Nude. Doktrin “seni untuk seni” begitu mewabah di saat itu, sehingga nyaris menyisihkan nilai-nilai akhlak dan moral manusia timur. Nilai estetis yang dipancarkan oleh sebuah lukisan wanita bugil karya Amedeo Modigliani yang dijuduli Nu feminin3 yang dilukis tahun 1917, benar-benar telah merasuk ke kalangan senirupawan Indonesia yang mulai dipengaruhi ageman estetisme, sehingga terlukislah di atas kanvas berbagai bentuk deformasi figur telanjang yang diinspirasi oleh Nu feminin tersebut. Selain Nu femini, muncul pula judul Deux nus feminis yang dilukis oleh Edvard Munich, kendati tak sepopuler Nu feminin tersebut, bahkan pengaruh nilai estetik plastikismenya masih jauh dikalahkan oleh lukisan nudenya Alexei von. Jawlensky yang dijuluki Nu assis yang dibikin tujuh tahun lebih awal dari Nu feminin yang menggebrak dunia estetisme di barat maupun di belahan timur.

Bagi para perupa komersil sebagaimana Basuki Abdullah ataupun Saptohudoyo misalnya, lukisan wanita bugil karya Edvard Munich berjudul Madone4 yang dibikin tahun 1894 yang menghadirkan postur erotisisme, paling tidak, telah memberikan pengaruh besar ketimbang lukisan bugil yang berjudul Nus sous les arbres karya Franz Marc yang dibikin tahun 1911 dan bergaya impressionistik atau Nu debout sous les arbres karya perupa Otto Mueller yang dilukis tahun 1915.

Estetisme nudistik muncul pula di era dadais di antaranya terlihat pada karya Francis Picabia, kendati dadaisme sendiri – dalam ulah pemberontakannya – tak terlampau mengekspose keindahan yang estetis semata-mata, namun lebih cendrung menggaungkan visi keindahan yang lebih transendental non estetis, yang dimanifestasikan lewat simbol-simbol ataupun metafor-metafor yang menyatire kehidupan seni maupun sosial yang dianggap terlampau stagnan dalam pengembangan kreativitanya.

Pelukisan-pelukisan bugil dari figur wanita maupun pria di zaman kontemporer tak ayal lagi telah banyak dipengaruhi oleh karya-karya rupa pada zaman Baroque dan Seni Rococo seputar tahun 1600 hingga 1800, di antaranya sebuah patung monumental karya Lorenzo Bernini (1599-1680) yang dijuduli The Rape of Proserpina5. Lantas patung karya Claude Michel yang berjudul The Intoxication Wine yang dibikin dari bahan tera-cotta dan dipajang di Museum of Art.

Seni rupa modern Eropa telah banyak menmunculkan karya-karya nude dalam berbagai teknik seperti cukilan kayunya Aristade Maillol (186101944) yang berjudul Dalphnis and Chloe, lithographynya Picasso yang berjudul Nude Seated, lantas etsanya Ander Leonard Zorn (1860-1920) yang berjudul Wet, dsb. Dan semuanya masih bergelut dalam takaran keindahan yang esteis.

Walhasil, seni pada umumnya atau seni rupa pada khususnya, tak perlu kita klaim sebagai wahana estetis yang mesti sarat dengan nilai-nilai estetis, sebab arti dari estetik berbeda dengan arti dari kata artistik. Sesuatu yang artistik bisa saja memiliki keindahan yang transendental, oleh sebab itu, suatu yang artistik bisa saja tak memiliki nilai estetis samasekali; atau mungkin pula,  sebuah karya seni bisa saja memiliki keduanya sekali gus, ya estetis, ya transendental sebagaimana pada beberapa lukisan Pablo Picasso, Ferdinand Leger, Georges Braque, atau pelukis Indonesia Ahmad sadali, Bagong Kussudiardjo, dsb.

Resolusi akhir

Ternyata keadiluhungan seni tak mungkin tercapai tanpa mengikutsertakan Keadiluhungan Tuhan. Estetisme yang kebablasan cuma mencuatkan “sikap batin yang beku” ( frozen emotional attitude) di kalangan para seniman yang semakin lupa bahwa berkesenian merupakan bagian ibadah kepada Sang Mahakreator yang Mencitrarasakan segenap keindahan di alam semesta ini. Memberhalakan nilai-nilai estetik tanpa  memperhatikan koridor-koridor moral keagamaan- agama manapun – akan menghapus nilai-nilai pendidikan yang positif yang semestinya terukir indah dalam sebuah karya seni, termasuk dalam karya seni rupa yang memiliki “keindahan estetis” atau dalam karya seni rupa lainnya yang memiliki “keindahan transenden”.

Sumber : Protagon Wordpress

Artikel Senirupa Frozen Emotional Attitude

Posted by : almira cinta
Date :
With 0komentar

Gerakan Atau Aliran dalam Senirupa

|
Read More »
Gerakan Atau Aliran dalam Senirupa
Gerakan Atau Aliran dalam Senirupa tidak lepas dari benang merah yang membentang dari kebudayaan Yunani hingga abad keduapuluh. Sejak tradisi klasik menggema dan menggelora di seluruh pelosok dunia hingga abad modernitas di segala cabang kebudayaan, merupakan rangkaian yang saling terkait satu sama lain.
Kenyataan (realita) yang ada di sekitar kehidupan para seniman, termasuk berbagai pengalamannya (empirik) dalam berkarya. Dari pengalamannya inilah para seniman menemukan hal-hal baru, sebagai pendekatan baru, sebagai teori baru, dan boleh dikatakan sebagai ilmu pengetahuan baru. Para seniman kemudian berkarya dengan menggunakan pendekatan empirik dan ilmu pengetahuan baru. Tidak lagi menggunakan prinsip dan kaidah klasik sebagai ilmu pengetahuan lama, tetapi justru  menemukan ilmu dari berbagai pengalaman tersebut. Ilmu tersebut tidak hanya ditangkap melalui mata tetapi ditafsirkan dengan perasaan yang kemudian diwujudkan melalui visualisasi karya. Berkarya tidak lagi meniru alam atau berdasarkan apa yang dilihat secara fotografis atau realistik-visual, tetapi apa yang dirasakan dan apa yang ditangkap oleh masing-masing pribadi seniman. Tentu saja hal ini menimbulkan individualisasi dalam kekaryaannya. Setiap seniman memiliki karakter ungkapan yang berbeda satu-sama lain. Dan hal inilah yang membuka peluang terhadap munculnya beragam aliran dan gaya seni lukis. Apalagi semenjak seniman mulai berpetualang ke berbagai pelosok negeri sambil melukis berbagai kenyataan. Dari petualangannya itu mereka menemukan ilmu dan menerapkannya ke dalam karya seni rupa. Mereka menemukan kebebasan dalam berkarya. Kebebasan yang hakiki adalah kebebasan mengungkapkan perasaan, ide dan gagasan yang lebih otonom. Maka kebebasan dalam seni adalah kewajaran yang menunjang lahirnya kreativitas.
Dengan perbedaan pandangan, idealisme, konsepsi, teori dan prinsip, para seniman melahirkan beragam gaya dan aliran yang terkadang merupakan gerakan. Gerakan atau gaya yang satu menentang gaya yang lain. Setiap reaksi, penentangan atau pengembangan dari suatu paham/aliran atau gerakan tak lepas dari perjuangan dalam prinsip kebebasan, dan konsepsi berkarya, baik dari segi estetika, tematik maupun teknik, dengan tidak lepas dari pengaruh latar belakang budaya, sosial dan politik.

Gerakan atau Aliran dalam senirupa

Berikut ini adalah beberapa gerakan atau aliran dalam senirupa yang admin urut mulai senirupa purba atau senirupa awal sampai kepada senirupa pasca modern atau postmodernisme :

1. Aliran Senirupa Primitivisme

Dinamakan primitif karena dari segi cara pengungkapannya tampak adanya spontanitas, bentuk-bentuk yang diungkapkannya cenderung ekspresif, dan bukan peniruan dari realitas bentuk alam. Kecenderungan gaya ekspresi tersebut didasari oleh dorongan spiritualitas dan kepentingan magis. Para pelukisnya belum mempertimbangkan rasio mereka dalam berkarya budaya, dan tidak pula berfilsafat untuk mendasari karya-karyanya. Mereka berkarya secara intuitif dan emosional. Melalui pendekatan emosional inilah tampaknya mewarnai citra estetik yang cenderung simbolistik karena ungkapan perasaannya dilambangkan oleh simbol-simbol sebagai hasil pemikirannya yang naif (bisa juga primordial).
Karya Lukisan Prasejarah seperti Lukisan gua yang menggambarkan goresan-goresan yang umumnya melukiskan binatang perburuan, lukisan arwah nenek moyang, tanda telapak tangan dan kaki tersebut dapat digolongkan ke dalam karya-karya yang primitif.
Seorang seniman yang memiliki tujuan magis menjadikan lukisan yang dibuat untuk mendatangkan magis atau sihir. Lukisan ini bersifat primitif. Akan tetapi, pelukis modern juga banyak yang melukis tema dan motif primitif agar menimbulkan kesan magis. Mereka menganut paham primitivisme. Seniman-seniman yang banyak melukis tema dan motif primitif banyak terdapat di Bali.

2. Aliran Senirupa Klasik atau Klasikisme

Seni rupa klasik memiliki gaya naturalisme yang diidealisir. Gaya peniruan terhadap bentuk alam yang selalu ditampilkan secara sempurna berdasarkan pendekatan intelektual ini dihasilkan oleh suatu proses kebudayaan yang berlandaskan kerangka filsafat humanisme. Sifat-sifat naturalistis pada karya seni rupa klasik adalah suatu upaya mendekati peniruan terhadap bentuk alam, khususnya bentuk manusia yang realistik sebagai perwujudan dari pemujaan pada nilai-nilai kesempurnaan manusia. Manusia sebagai mahluk hidup dipandang memiliki kelebihan dari mahluk lain. Sesuatu yang kreatif spontan tidak mendapat tempat. Kreativitas seniman dibatasi oleh kerangka intelektual.
Pada umumnya kesenian yang seperti ini dipergunakan oleh penciptanya untuk melukiskan dewa-dewanya yang dianggap berbentuk sebagai manusia yang sempurna, sehingga kesenian ini tidak lain adalah bentuk konvensi saja. Meniru bentuk dewa seperti bentuk manusia yang ideal ini berarti mewujudkan ide tentang keluhuran Dewa

3. Aliran Senirupa Renesan atau Renaissance

Tema seni Renesan bersumber dari seni budaya Klasik Yunani dan Romawi purba. Namun dilihat dari keseluruhan karyanya bersifat pribadi (humanistis), misalnya pada karya seni lukis, seni patung, dan arsitektur. Tema yang lain misalnya tema lanskap (pemandangan alam), potret, dan tema- tema sekular.
Seniman Renesan adalah seniman yang teguh pendirian dalam mengembangkan dan melestarikan seni klasik Yunani dan Romawi. Keahlian dalam hal teknis/cara-cara berkarya seni yang naturalistis sudah sangat baik. Jika kita kaji seni Renesan, sebenarnya sudah merintis pemunculan individu dalam berkarya seni, dan melepaskan seni dari agama secara bertahap. Untuk lebih detailnya silahkan menuju posting aliran senirupa Renaissance

Tokoh Senirupa Renesan / Renaissance :  

Giotto, Andrea Mantegna, Piero Della Fransesca, Giovanni Bellini, Leonardo Da Vinci, Michelangelo, Raphael, dan Bramante.

4. Barok dan Rokoko

Barok dan Rokoko sebenarnya merupakan pengulangan naturalisme Renaissance yang lebih kental dengan pesanan-pesanan raja sebagai patronage. Namun Rokoko sebenarnya merupakan masa terakhir , sebelum perkembangan seni moderen dimulai.
Tradisi seni lukis masa ini dan sebelumnya lebih banyak menggambarkan tema-tema dewi yang cantik-molek dan wanita-wanita istana dengan kulitnya yang merah-jambu dan terutama dipilihkan dari adegan-adegan yang menggairahkan. Perkembangan seni Barok dan Rokoko adalah gejala kemunduran senirupa menurut pandangan ideal klasik dan para kritikus waktu itu menamakannya sebagai seni yang dekaden dan ugly.

5. Aliran Neo Klasikisme

Kelompok seniman pada masa ini sedikit demi sedikit menciptakan karya semata-mata memperturutkan panggilan hatinya masing-masing, melukis bukan karena pesanan atau order, melainkan karena ingin melukis. Maka timbul adanya kekuatan pribadi-pribadi seniman (semacam proses individualisasi dan isolasi diri) dalam berkarya seni. Dengan demikian riwayat seni rupa modern dalam sejarah telah tampak tanda-tandanya pada masa ini.
Neoklasik ini muncul mereaksi terhadap fenomena seni Barok/Rokoko dan menganggap bahwa seni Barok/Rokoko itu sudah menyimpang dari kaidah seni klasik, dengan sebutan jelek (ugly) dan penurunan nilai (dekaden). Maka Neoklasik berkeinginan untuk mengembalikan dan memurnikan ideal klasik, dengan mempelajari, menggali, dan mengembangkan kaidah-kaidah kuno Yunani dan Romawi klasik. Aliran Neoklasikisme

Tokoh aliran Neo Klasikisme adalah :

6. Aliran Romantisisme

Aliran Romantisisme merupakan gerakan yang meneruskan Neoklasisisme tetapi sekaligus mereaksi dan menentang klasisisme. Pelopor gerakan Romantisisme adalah Theodore Gericault (1791-1824) dengan salah satu karyanya yang terkenal Rakit Medusa (1818). Sebagai kelanjutan, Romantisisme tetap merupakan gerakan seni yang lari dari kenyataan hidup, menggarap dunia yang ideal dan misterius dengan menggunakan teknik-teknik akademisme yang rasional.

Ciri Lukisan Romantisisme :

  1. Aliran Romantisisme berkarya melalui pendekatan emosional;
  2. Romantisisme lebih banyak menampilkan tema-tema kehidupan dunia misteri, cerita roman, tema yang eksotik (cerita dari negeri China, Islam, Afrika);
  3. Romantisisme menonjolkan peranan perasaan pribadi seniman, misalnya dalam segi komposisi yang dinamis (diagonal) dan unsur warna dengan gelap terang yang didramatisir

Tokoh Aliran Romantisisme :

  • Theodore Gericault (1791-1824), Prancis
  • Eugene Delacroix (1798-1863), Prancis
  • Franciso Goya (1746-1828), Spanyol
  • John Constable (1776-1837), Inggris
  • Joseph Mallord William Turner (1775-1851), Inggris
  • Thomas Cole (1801-1848), Amerika
Pengaruh Romantisisme pernah dialami oleh pelopor seni lukis baru Indonesia yaitu Raden Saleh Syarif Bustaman yang memperoleh pengalaman seni Romantisisme di Eropa.

7. Aliran Realisme

Gerakan Realisme muncul karena menentang seni Neoklasisisme dan Romantisisme. Jika Neoklasisisme menggunakan rasio/intelektualnya dalam mengungkapkan ide, dan Romantisisme menggunakan emosinya, maka Realisme berkeinginan menggambarkan keadaan nyata hidup manusia. Seniman Realisme berkeinginan menggambarkan obyek yang benar-benar real, tanpa ilusi, dan bersumber dari kehidupan sehari-hari. 

Tokoh Aliran Realisme :

  • Honore Daumier (1808-1879), Prancis
  • Gustave Courbet (1819-1977), Prancis
  • Edouard Manet (1832-1883), Prancis
  • Thomas Eakins (1844-1916), Amerika
  • Henry O. Tanner (1859-1937), Afrika-Amerika

8. Aliran Impressionisme

Gerakan Impresionisme berkembang dari gerakan Realisme, yang meneruskan tradisi melukis berdasarkan pengamatan objek dalam kenyataan sehari-hari. Namun, tidak seperti seni lukis Realisme, seni lukis Impresionisme menggunakan warna yang terang. Pelukis Impresionis merekam kesan pengamatannya melalui goresan kuas yang tampak spontan dan kasar (sketchy), sehingga sering kali objek tampak kabur, tidak terfokus.
Istilah “Impresionisme” muncul ketika kelompok pelukis tersebut menyelenggarakan pamerannya yang pertama pada tahun 1874. Istilah tersebut sebenarnya merupakan komentar bernada sinis oleh para kritikus pada waktu itu, karena karya mereka tampak seperti sketsa atau terkesan belum jadi.

Tokoh Seniman dari Aliran Impressionsime adalah;

  • Claude Monet (1840-1926), 
  • Pierre-Auguste Renoir (1841-1919), 
  • Edgar Degas (1834-1917), 
  • Berthe Morisot (1841-1895), 
  • Mary Cassat (1845-1926), 
  • James Abbot McNeil Whistler (1834-1903)

9. Aliran Post Impressionisme

Aliran Post-Impresionisme merupakan gerakan seni rupa pada tahun 1880-an. Sesuai dengan namanya, gerakan itu merupakan kelanjutan dari Impresionisme. Seniman-seniman Post-Impresionisme pertama-tama mendapat pengaruh dari gerakan Impresionisme, namun kemudian menolaknya, kecuali beberapa unsurnya yang mendasar seperti penggunaan warna yang cermerlang.
Dalam Post-Impresionisme berkembang beberapa gerakan, misalnya Divisionisme, yang disebut juga Neo-Impresionisme atau Pointilisme, dan Simbolisme atau dalam seni lukis disebut Sintetisme. Beberapa seniman Post-Impresionisme yang lain mengembangkan gayanya sendiri secara lebih bebas.

Tokoh dari Aliran Post Impressionisme adalah; 

  • Georges Seurat (1859-1891), 
  • Paul Cezanne (1839-1906), 
  • Vincent Van Gogh (1853-1890), 
  • Paul Gauguin (1848-1903), 
  • Toulouse-Lautrec (1864-1901), 
  • Edvard Munch (1863-1944), 
  • Henri Russeau (1844-1910)

10. Aliran Fauvisme

Aliran Fauvisme berangkat dari usaha menyempurnakan aliran Impresionisme, suatu peningkatan gaya Paul Gauguin yang dekoratif dan gaya ekspresionisme dari van Gogh. Meskipun aliran Fauvisme tidak memperlihatkan teknik yang sama dan konsisten, tetapi selalu mengandung ciri-ciri yang sama yaitu kekuatan warna, garis blabar yang putus-putus dan penampilan yang serba tidak teratur.
Fauvisme berasal dari kata "les fauves" (bahasa Perancis), artinya binatang jalang, binatang buas atau "the wild beasts". Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh kritikus Perancis Louis Vauxelles terhadap para pelukis yang menggunakan warna-warna yang barbar (tegas dan berani) dan deformasi dari obyek lukisan pada pameran salon d'Automne tahun 1905.

Tokoh Aliran Fauvisme adalah ;

  • Henri Matisse (1869—1954), Prancis
  • André Derain (1880—1954), Prancis
  • Georges Rouault (1871-1958), Prancis
  • Wassily Kandinsky (1866 - 1944). Rusia
  • Paula Modersohn-Becker (1876—1907), Jerman
  • Käthe Kollwitz (1867 - 1945), Jerman

11. Aliran Ekspressionisme

Aliran ekspresionime adalah pernyataan dari bentuk ungkapan yang anti klasik dengan kaidah seni yang serba tenang dan halus. Juga tidak ada hubungannya dengan seni Timur yang serba misterius. Cita-cita ekspresionisme ialah pembebasan seniman dari kaidah seni akademik dan mengandalkan kepada dorongan yang bersumber dari dalam pribadi, suatu pemuasan diri (self-enjoyment). Aliran dan gaya ini telah dirintis sebelumnya oleh van Gogh.
Para pelopor aliran ini kebanyakan dari Jerman, sebagai protes terhadap optimisme dan materialisme dari kaum Impresionisme. Yang paling terkenal kelompok Ekspresionisme di abad ke-20 adalah di sekolah Jerman yang dipelopori oleh Ernst Ludwig Kirchner, Erich Heckel, dan Karl Schmidt– Ruttluf .

Tokoh Aliran Ekspressionisme adalah :

  • Emil Nolde (1867-1956), Jerman
  • Ernst Ludwig Kirchner (1880 - 1938), Jerman
  • Vincent van Gogh (1853-1890),
  • James Sidney Ensor (1860-1949),
  • Edvard Munch (1863-1944),
  • Wassily Kandinsky (1866-1944), Rusia
  • Paul Klee (1879-1940), Swiss
  • George Grosz (1895-1959), Jerman - Amerika
  • Otto Dix (1891-1969), Jerman
  • Pelukis Jerman yang lain ialah Otto Muller, Franz Marc, August Macky dan Heinrich Campendonk

    12. Aliran Kubisme

    Kubisme adalah gaya abstrak formalistik yang pertama-tama berkembang seiring dengan Ekspresionisme sebelum Perang Dunia I. Istilah Kubisme dapat digunakan secara umum untuk menunjukkan semua gaya abstrak geometrik pada abad ke-20 atau secara terbatas menunjukkan gerakan-gerakan awal khususnya Kubisme Analitik dan Kubisme Sinthetik.

    Tokoh Aliran Kubisme adalah :

    • Pablo Picasso (1881-1974), Spanyol
    • Fenand Léger (1881-1955)
    • Jacques Lipchitz (1891—1964), Prancis
    • Frank Lloyd Wright (1867—1959), Amerika

    13. Aliran Purisme

    Purisme merupakan reaksi pemulihan atas kekacauan akibat Kubisme. Purisme sebagai gerakan ambisius yang berumur pendek (tujuh tahun) ini hanya berhasil dalam bidang arsitektur Le Corbusier yang mencapai reputasi internasional. Sedangkan karya seni lukisnya telah mencapai Paris, namun pengaruh terbesar setelah perang adalah pada lukisan dan patung yang datang dari De Sitjl., Konstruktivisme, dan Surealisme. Tahun-tahun puncak gerakan ini adalah pada masa Theo Van Doesburgh yaitu pendeta pertama asal Paris di De Stijl, dan pada masa Andre Breton dan Tristan Tzara (1920-1925). Secara bersamaan seperti terjadi pertentangan bahwa Purisme menawarkan pemurnian dan alternatiff kebebasan pada para penganut Kubisme pasca perang di Paris dan di De Stijl.

    14. Aliran Orphisme

    Orphisme dapat ialah gaya seni lukis yang cenderung abstrak. Atau dapat juga dikatakan sebagai karya lukis "murni abstrak" yang dinyatakan di Paris antara akhir 1911 dan awal 1914. Sebagai gerakan yang diperlihatkan dalam karya cipta penyair Guillaume Apollinaire, yang memberi nama pada pameran Section d‘Or pada Oktober 1912. Dia berusaha memberi kategori variasi kecenderungan dalam kubisme (batasan sangat bebas) dan digunakan istilah "Orphic Cubism" untuk menyebut sejumlah pelukis yang bergerak dari pengakuan subject-matter. Orphisme tidak sepenuhnya sesuai dengan batasan Apollinaire yang juga mempunyai dua paham. Apollinaire membuat analisis yang dimulai dari beberapa bentuk seni yang tidak membutuhkan subject-matter dan mempercayakan pada bentuk dan warna untuk mengkomunikasikan gagasan serta perasaan.
    Para pengikut aliran ini dipengaruhi oleh kesadarannya sebagai manusia, serta mereka membebaskan diri dari kebentukan manusia. Dengan kata lain mengekspresikan dirinya ke dalam garis dan warna yang dinamis. Mereka menggantikan kekhususan perasaan manusia dengan sesuatu yang bersifat lembut dan ilusif.

    15. Aliran Futurisme

    Aliran Futurisme tergolong sebagai suatu aliran seni lukis modern yang termasuk langka. Ungkapan seni Futurisme didasari bukan oleh sekedar ketidakpuasan dari warisan seni yang ada, dan menciptakan idiom baru, tetapi merupakan ekspresi dan reaksi awal terhadap perkembangan teknologi dan industri.Gerakan revolusi Futurisme diproklamirkan pada tahun 1909 oleh seorang penulis dan penyair Italia, Filippo Tommaso Marinetti. Futurisme adalah sebuah pergerakan seni murni Italia dan sebuah pergerakan kebudayaan pertama dalam abad ke-20 ini, yang diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat luas. Bermula dari konsep dalam pergerakan sastra, kemudian merasuk ke dalam bidang kesenian seperti: seni lukis, seni patung, seni musik, desain dan arsitektur.
    Futurisme ini muncul dari situasi yang ditimbulkan akibat perang dunia ke-1, dengan tujuan meninggalkan kenangan pahit, nostalgia, pesimistis, kemudian melepaskan materi-materi , elemen-elemen , dan nilai - nilai lama.
    Nilai-nilai dari kaum Futuris, dimaksudkan untuk mengiringi dan mengimbangi pergeseran kebudayaan, kekuatan dinamis pasar yang luas, era permesinan, dan komunikasi global yang menurut argumentasi mereka tengah mengubah alam realitas dari kebudayaan dunia.
    Konsep karya Futurisme didasari pemikiran bahwa energi alam harus ditampilkan di dalam karya seni sebagai sensasi dinamis yang dapat memecahkan suatu kesatuan realitas. Ia menjadi sesuatu yang baru dengan melalui penggunaan gerak dan cahaya.

    Tokoh Seniman Aliran Futurisme ;

    • Giacomo Balla, Italia
    • Gino Severini (1883-1966), Italia
    • Umberto Boccioni (1882—1916), Italia
    • Fortunato Depero
    • Lucio Venna, Venice
    • Nocolay Diuldheroff, Bulgaria
    • Filippo Tommaso Marinetti, Mesir
    • Carlo Carra (1881-1966), Italia

    16. Aliran Vortisisme

    Futurisme adalah akselerasi imajinasi, yang tampak berstimulan melalui bidang datar, dan juga tampak kesan cubo-futurisme dari Nude Descending a Staircase-nya Marchell Duchamp. Sedangkan Vortisisme menghadirkan akselerasi ini secara mendalam, menghasilkan perspektif yang intensif dan cepat, sebagai sebuah vortex. Pound menulis: Imaji ini bukan suatu ide, namun suatu kumpulan yang saya bisa dan harus dipaksakan, yaitu vortex, dari dan melalui apa gagasan diwujudkan. Orang dapat menyebutnya dengan vortex. Maka dari sinilah berkembang menjadi Vortisisme.
    Kebrutalan tenaga merupakan karakteristik Vortisisme. Penganut terbaik aliran ini mendapat pengaruh kuat dari kesan mekanik yang barbar, kepedulian terhadap kebrutalan dengan ketidakbertanggungjawaban kontrol lingkungan yang kurang dalam ide seni kubisme dan romantiknya seni Futurisme. Hal inilah yang merupakan bentuk kontribusi yang signifikan dari aliran Vortisisme pada perkembangan seni abad ke-20.
    Tokoh dari Aliran Vortisisme adalah, Wadsworth, Lewis, David Bomberg, Henri Gaudier-Brzeska

    17. Aliran Dadaisme

    Ciri khas karya seni Dadaisme ialah bagaimana penggunaan teknik dan cara menyatakan ekspresi yang serba nonkonvensional sehingga tampak aneh. Teori Dada ialah apabila dunia ini selama 300 tahun tidak bisa merencanakan perkembangannya, bagi seorang artis tidak mungkin pura-pura menemukan arti dalam kekacauan ini. Dada menolak setiap kode moral, sosial, maupun estetik. Pandangan estetik Dada ialah tidak ada estetika. Sikap kemuakan terhadap keadaan dunia, karena perang, karena kekacauan (pandangan Die Neue Sachlichkeit). Para seniman yang termasuk aliran ini antara lain : Max Ernst, Marchel Duchamp dan Schwitters

    18. Surealisme

    Surealisme sesungguhnya pada awalnya bukan aliran seni lukis, namun seni sastra. Sebutan ini dikemukakan oleh penyair Perancis Guillaume Appololinaire dan dipakai untuk menjuduli naskah dramanya pada tahun 1917. Namun Surealisme akhirnya lebih populer sebagai aliran seni lukis. Aliran ini berlandaskan ilmu jiwa (psikologi) yang dipelopori golongan psiko-analisa Sigmun Freud. Kajian psiko-analisa menggali segala sesuatu yang berada di belakang kesadaran (bawah sadar) dalam proses kerja seniman. Pelopor dari aliran ini juga sering disebut golongan seni lukis metafisis seperti tampak pada karya Chirico dan Carra.
    Karya seni aliran ini menggambarkan sesuatu yang aneh, asing susunannya atau objek yang terdapat di dalamnya. Dalam perkembangannya, terdapat dua kecenderungan yaitu surealisme ekspresif dan surealisme murni.

    Tokoh Seniman dari Aliran Surealisme adalah :

    Henry Rousseau, Joan Miro, Carlo Carra, Jean Arp, Max Ernst, Paul Klee, Chirico, Andre Masson, Joan Miro, Marc Chagall, Salvador Dali, Yves Tangui, Rene Margritte, Roberto Matta

    19. Neoplastisisme - De STIJL

     De Stijl atau gerakan Neoplastisisme berlangsung selama 14 tahun yaitu tahun 1917 – 1931, atas karakteristik yang penting dari kerja tiga orang seniman, yaitu Piet Mondrian, Theo Van Doesburgh, dan seorang arsitek Gernit Rietvield.
    Ahli sejarah seni Belanda H.L.C. Jaffe mengatakan bahwa prinsip plastis dan filosofis dari pergerakan De Stijl sesungguhnya berdiri sendiri.
    Pergerakan De Stijl hadir dalam 2 bentuk hubungan konflasi, yang pertama yaitu filsafat neoplatonik dari seorang matematikawan Dr. Schoenmaekers di Bussum,pada tahun 1915 dan 1916. Pendapatnya berjudul ―The New Image of The World ― ( Suatu Gambaran Dunia Baru 0 dan prinsip-prinsip matematika plastis (The Principles of Plastic Mathematics / Beeldende Wiskunde ) dan yang kedua diterima dari konsep arsitektur Hendrik Petrus Berlage dan Frank Lloyd Wright.
    Tokoh Seniman dari Aliran De STIJL adalah : Piet Mondrian, Theo Van Doesburgh, dan seorang arsitek Gernit Rietvield.

    20. Aliran Konstruktivisme

    Dalam wacana seni rupa, pengolahan kebentukan abstrak aliran Konstrukrivisme muncul didasari oleh suatu keadaan yang membelenggu kebebasan para seniman. Aliran Konstruktivisme sebenarnya bukan menjadi gaya dalam seni rupa, juga bukan gaya yang lainnya. Pada intinya merupakan ekspresi yang utama atas keterkurungan kehendak sehingga seniman diharuskan mempertinggi lingkup sosial, dan berhubungan dengan mesin produksi. Untuk itu dijalin hubungan dengan arsitek, grafikus, dan fotografer. Untuk menemukan bahan-bahan yang diperlukan dalam mewujudkan aspirasi, mengorganisasi dan menyelaraskan perasaan dari proletar revolusi, mereka menyebut dirinya bukan sebagai seni praktis tetapi wujud sosialisme dalam seni.

    Tokoh Seniman dari Aliran Konstruktivisme :

    Louis Sullivan,muridnya Frank Lloyd Wright, Henry van Devele, dan Antonio Sant Elia, Vladimir Tatlin (1855-1953), Alexander Rodchenko (1891-1956), dan El Lissitzky (1890-1941)

    21. Ekspressionisme Abstrak

    Charles Harrison (1994) menafsirkan tentang gejala aliran ekspresionisme abstrak sebagai fenomena bersejarah pada dekade tahun 40-an, saat lima orang seniman memperlihatkan perbedaan gaya masing-masing individual. Kelima orang seniman itu ialah Rothko (47 tahun), de Kooning (46 tahun), Newman (45 tahun), dan Pollock (38 tahun).
    Seni abstrak pada hakekatnya merupakan suatu kreasi yang terdiri dari susunan garis, bentuk dan warna yang terlepas dari bentuk-bentuk yang ada di alam. Salah seorang pelopor seni abstrak adalah Wassily Kandinsky. Dia turut mempengaruhi munculnya beberapa aliran seni, termasuk di dalamnya Ekspresionisme Abstrak.
    Istilah Ekspresionisme Abstrak pertama kali digunakan pada tahun 1919, yang digunakan untuk menjelaskan lukisan karya Wassily Kandinsky (1866-1944). Ekspresionisme Abstrak juga digunakan untuk menjelaskan lukisan Kandinsky.
    Seni Ekspresionisme Abstrak bukan merupakan perwujudan ide sebagai gaya. Tetapi lebih cenderung sebagai wujud dari serangkaian aneka bakat individual para seniman. Hal tersebut berhubungan erat dengan sejarah munculnya Ekspresionisme Abstrak, sebagai hasil eksperimen individual para seniman yang relatif mengisolasikan diri sepanjang tahun 1930-an dan 1940-an. Esensi dari Ekspresionisme Abstrak terletak dari spontanitas yang kuat dari seniman dalam berkarya terhadap kecenderungan gaya dari masing-masing pribadi.

    Tokoh Seniman Aliran Ekspressionisme Abstrak adalah :

    Hans Hoffmann, Arshile Gorky, Willem de Koooning, Jackson Pollock, Franz Kline, Bradley Walker Tomlin, Willian Baziotes, Mark Tobey, Philip Guston, James Brooks dan Conrad Marca-Relli

    22. Aliran Pop Art

    Aliran Pop Art adalah Populer Art. Yang dimaksudkan bukan seni yang populer melainkan seni yang menggunakan obyek/benda yang populer sebagai subject-matter, dan berhubungan dengan imaji kebendaan di lingkungan sehari-hari. Istilah Pop Art sendiri dilontarkan pada tahun 1956 oleh Lawrence Alloway, orang Inggris, kurator N.Y. Gaugenheim Museum. Dia menyatakan bahwa kata Pop itu dipergunakan untuk menyatakan suatu pengertian yang luas, yaitu sikap seniman yang kembali pada kultur massa. Suatu penolakan terhadap snobisme di dalam seni dan anggapan bahwa semua yang nyata dan ada seharusnya menjadi seni, walaupun hanya barang biasa atau bahkan sebuah iklan. Pop Art sendiri baru diakui sebagai gaya seni pada tahun 1964.

    Tokoh Seniman dari Aliran Pop Art adalah :

    Olden Burg, Rosenguist, Andy Warhol, Jim Dine, Lichtenstein

    23. Optical Art

    Optical Art yang dialihbahasakan menjadi Seni Optik telah berkembang sebagai salah satu hasil karya seni rupa moderen. Seni Optik ini didasari oleh hasil penelitian dan penemuan dalam bidang ilmu fisika dan ilmu anatomi manusia. Hasil penelitian tersebut dikembangkan menjadi ilmu optik.
    Istilah Optic atau Retinal Art diterapkan pada karya-karya seni rupa dua dimensional yang sepenuhnya menggali dan memanfaatkan kekeliruan mata. Pada umumnya seni optik bertsifat abstrak, formal, dan eksak.
    Seni optik dengan wujudnya yang khas berupa susunan geometris berulang-ulang, merupakan semacam usaha untuk mengeksploitir kelemahan mata dengan ilusi ruang (dan terkadang gerak semu).
    Dengan kata lain bahwa Aliran Optical Art adalah seni dua dimensi, yang pada umumnya berbentuk abstrak, formal dan konstruktif melalui wujud yang khas dalam bentuk geometris dan perulangan teratur, rapi, teliti, sehingga dapat menimbulkan efek-efek optik yang mengecoh mata dengan ilusi ruang. Warna-warna yang digunakan kebanyakan warna cerah atau lightness tinggi dengan memberikan batas pada hue atau saturation yang tajam dan tegas.
    Seni optik juga memiliki kualitas dinamis yang menghidupkan kesan-kesan dan sensasi-sensasi ilusorik pada diri pengamat, baik dalam struktur fisik mata maupun otaknya. Jadi dapat\ dikatakan bahwa seni optik berkenaan dengan cara ilusi yang paling mendasar dan bermakna. Tentu saja harus dapat dibedakan dengan ilusi-ilusi dalam karya seni rupa yang lainnya, sebab bagaimanapun juga semua karya seni rupa melibatkan unsur ilusi.. Ilusi memanfaatkan kemampuan pengamat untuk melengkapi kesan-kesan dalam pikiran dengan berdasarkan pada pengalaman sebelumnya. Ilusi adalah proses yang merangsang imajinasi untuk menundukkan logiika kanvas dua dimensi.

    Tokoh Seniman Aliran Optical Art :

    Tokoh seniman optik yang sering dinamakan sebagai Bapak Seni Optik ialah M.C.Escher. Dia adalah seorang seniman grafis dari Belanda.
    Albers adalah seniman optik yang banyak menggali kemungkinan visualisasi optik pada karya lukisannya yang mendemonstrasikan semua nuansa relativiitas dan ketidakstabilan warna dan ketegasannya melalui berbagai interaksi

    Gerakan Atau Aliran dalam Senirupa

    Posted by : almira cinta
    Date :
    With 0komentar

    Karya Senirupa Mesopotamia

    |
    Read More »
    Sejarah Senirupa Mesopotamia

    Wilayah Mesopotamia

    Mesopotamia merupakan kerajaan di Persia yang terletak di daerah Syria timur, dan Iraq. Mesopotamia artinya dataran diantara dua sungai, yaitu diapit oleh Sungai Tigris dan Euphrates. Daerah yang kini menjadi Republik Irak itu di zaman dahulu disebut Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti "(daerah) di antara sungai-sungai". Nama Mesopotamia sudah digunakan oleh para penulis Yunani dan Latin kuno, seperti apa Polybius (abad 2 SM) dan Strabo (60 SM-20 M). Peradabannya dikenal paling tua sejak 7000 BC.

    Menurut keyakinan Kristen dan Yahudi seperti dalam Perjanjian Lama, ada usaha menghubungkan keluarga Abraham (yang lalu disebut "Bapa Orang Beriman" dan diakui oleh tiga agama monoteistik dunia, Islam, Kristen, dan Yahudi ) dengan Mesopotamia. Dalam kitab Kejadian 11,31 dikatakan, pada suatu masa keluarga Abraham berpindah dari Ur- Kasdim ke Haran sebelum akhirnya berpindah ke Kanaan (Daerah Israel dan Palestina sekarang).

    Lokasi Ur-Kasdim biasanya dirujuk pada Tell el-Muqayyar, situs bekas reruntuhan Kota Ur kuno dari periode Sumeria. Tapi, banyak ahli masih meragukan usulan ini. Sedangkan Haran terletak di bagian utara Mesopotamia, di tepi Sungai Eufrat.

    Sejarah Mesopotamia :

    Sejarah Mesopotamia diawali dengan tumbuhnya sebuah peradaban, yang diyakini sebagai pusat peradaban tertua di dunia, oleh bangsa Sumer(ia). Bangsa Sumeria membangun beberapa kota kuno yang terkenal, yaitu Ur, Ereck, Kish, dll. Kehadiran seorang tokoh imperialistik dari bangsa lain yg juga mendiami kawasan Mesopotamia, bangsa Akkadia, dipimpin Sargon Agung, ternya melakukan sebuah penaklukan politis, tapi bukan penaklukan kultural. Bahkan dalam berbagai hal budaya Sumer dan Akkad berakulturasi, sehingga era kepemimpinan ini sering disebut Jilid Sumer-Akkad. Campur tangan Sumer tidak dapat diremehkan begitu saja, pada saat Akkad terdesak oleh bangsa Gutti, bangsa Sumer-lah yg mendukung Akkad, sehingga mereka masih dapat berkuasa di "tanah antara dua sungai" itu.

    Salah satu warisan peradaban Mesopotamia Kuno yang amat bernilai bagi umat manusia adalah kumpulan hukum yang biasa disebut Codex Hammurabi. Kumpulan hukum yang berbentuk balok batu hitam itu ditemukan di Susa tahun 1901 dalam suatu ekspedisi yang dilakukan arkeolog Perancis di bawah pimpinan M de Morgan. Pada bagian atas balok, yang kini ada di Museum Louvre, Paris, ada relief yang menggambarkan Raja Hammurabi dari Babilonia Kuno (1728-1686 SM) sedang menerima hukum dari Dewa Shamash, dewa Matahari yang juga menjadi dewa pelindung keadilan.

    Perbandingan dengan kumpulan hukum yang ada dalam kitab Keluaran 21-23 menunjukkan adanya kesejajaran yang dekat. Adanya ketergantungan antara kedua kumpulan hukum itu tidak bisa ditentukan dengan pasti, tetapi pengaruh tidak langsung rasanya merupakan sesuatu yang amat masuk akal.

    Codex Hammurabi, yang terdiri dari 282 pasal ditambah Prolog dan Epilog, tidak saja berpengaruh pada kumpulan hukum yang ada dalam Alkitab, tetapi juga pada sistem hukum pada periode selanjutnya. Yang menarik dan mungkin membuat kita (seharusnya) tertunduk malu adalah, kumpulan hukum itu juga mengingatkan kita bahwa sejak abad 18 SM, di Mesopotamia sudah ada seorang pemimpin besar yang sungguh-sungguh mempunyai kesadaran bahwa manusia harus diperlakukan secara adil sebagai manusia.

    Peninggalan Karya Senirupa Mesopotamia

    Ciri Utama Karya Senirupa Mesopotamia Perbedaannya dengan Karya Senirupa Mesir adalah :
    1. Tidak banyak dewa (al Dewa Marduk)
    2. Tidak banyak bangunan yang berghubungan dengan dewa
    3. Tidak banyak ditemukan patung-patung, lukisan, relief ttg dewa
    4. Karya seninya bersifat keduniawian dengan istana sebagai pusatnya sehingga disebut seni pelayanan (melayani penguasa)
    5. Karya seni rupanya tdk memperlihatkan satu kesatuan yang utuh. Setiap bangsa menghasilkan  karya yang berbeda-meda
    6. peninggalan tidak sebanyak ditemukan dengan seni rupa mesir karena:
    7. keadaan alam yang ganas
    8. bahannya tidak tahan lama (al terakota)
    9. adanya sifat vandalisme

    Keunikan Senirupa Mesopotamia

    • Terdapat taman gantung
    • Adanya relief bersambung (2 km ) pada istana bagian bawahnya
    • Adanya mahluk penjaga ambang, pada istana
    • Materai pictograf
    • Adanya gaya Realisme dramatis pada seni lukis, diusahakan untuk menangkap ujud benda tersebut setepat meungklin dengan ketapatan anatominya tetapi menekankan betul pada sifat perasaan
    • Adanya sifat Antithesis: pembuatan makhluk yang berhadapan, ditengahnyaa ada benda lain, bersifat simetris

    Jenis Karya Senirupa Mesopatamia

    Seni Bangunan

    Perbedaan dengan karya senirupa mesir :
    Mesir memakai sistem arsitraf
    Mesopotamia memakai sistim Terracota (susun timbun)


    karya Senirupa Mesopotamia

    The Tower of BabelThe Tower of Babel(1563), by Flemish artist Pieter Bruegel the Elder, adalah lukisan minyak di atas kayu. Artis memilih untuk mengatur menara di Belgia daripada di dataran Mesopotamia, yang merupakan lokasi dari menara menurut Alkitab. Pembangunan lengkungan-lengkungan dalam-versi Bruegel tentang menara ini diambil dari studi artis dari Colosseum di Roma.

    Istana

    • Dikelilingi tembok raksasa (alasan geografis dan keamanan)
    • Dikelilingi parityang luas
    • Dibuat diatas dataran yang ditinggikan
    • Mempunyai menara penjaga (benteng)
    • Mewah dengan hiasan-hiasan (tiang tempel dengan alas tiang berbentuk singa yang berjalan)
    • Tiang-tiang pendukung atap tidak ada, kecuali tiang tempel
    • Menggunakan atap yang rata dan lengkung
    karya Senirupa Mesopotamia

    Zigurat :

    Zigurat adalah bangunan bertingkat yang mengesankan sebuah menara, dengan tang melilit keatas. Dibagian permukaan dihiasi.
    Fungsi dari zigurat ini yaitu: sebagai kuil Dewa Marduk, dan sebagai observatorium.


    karya Senirupa Mesopotamia
    Zigurat, Raja Urnammu, di Ur Irak, 2100 SM

    Stele
    Tugu batu yang dipahat, bentuknya seperti obelisk (Mesir), menhir (Prasejarah)
    Fungsi: sebagai tugu peringatan

    karya Senirupa Mesopotamia

    Stelle NaramsinTugu dengan relief peperangan yang dimenangkan oleh Naramsin. Penggambaran raja dengan ukuran lebih besar berdasarkan perinsif yang sama dengan relief Mesir.

    Seni Patung

    • Diawali dengan sifat kaku/primitif/naif ekspresif
    • Perkembangan selanjutnya menjadi realistis
    • Proporsi tubuh yang kaku
    • Otot-otot tubuh yang dilebihkan
    • Dekoratif (amakhluk penjaga ambang)
    • Kepala mendekati bola (bulat)
    • kubistis
    karya Senirupa Mesopotamia


    Patung raja Tello, Gudea (kaku, kepala bulat)
    Patung raja Nebukad Nezar (naif ekspresif)
    Penjaga ambang (dekoratif)

    karya Senirupa Mesopotamia


    Seni Relief

    Relief terdapat dalam istana, stelle, materai, dan benda kerajinan. Contoh: Istana Sargon di Karsabad, Stelle Naramsin,dan Stelle Hamurabi (kerajaan lama).

    karya Senirupa Mesopotamia

      Karya Senirupa Mesopotamia

      Posted by : almira cinta
      Date :
      With 0komentar
      Prev
      ▲Top▲