Newest Post

Tampilkan postingan dengan label Seni Kriya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Kriya. Tampilkan semua postingan

22 Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus Bekas

|
Read More »
Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus
Sebelumnya kami sudah pernah membahas tentang karya Seni kriya, dan kali ini kami akan membagikan kepada anda beberapa contoh karya seni kriya yang terbuat dari kardus bekas. Pertama kali melihat Karya Seni Kriya dari Kardus Bekas ini, admin blog senirupa benar-benar berdecak kagum, sungguh suatu karya seni kriya yang sangat kreatif dan artistik, dan tentunya di hasilkan dari tangan-tangan terampil dan penuh kesabaran dalam membuat karya Senirupa ini.
Karya Seni Kriya dari kardus ini dibuat oleh Chris Gilmour, seorang seniman senirupa yang berasal dari Amerika. Chris Gilmour sendiri Lahir di Stockport, UK 1973, tinggal dan bekerja di Udine, Italia
Tahun 2006 Meraih dan dianugerahi Premio Kairo, Hadiah bagi seniman disana.
Jika anda berkeinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang seniman kriya kardus ini, silahkan menuju kesitus pribadinya disini : http://www.chrisgilmour.com
Berikut beberapa contoh karya Seni Kriya yang dapat kami bagikan kepada anda.

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus


Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus

22 Contoh Karya Seni Kriya dari Kardus Bekas

Posted by : almira cinta
Date :
With 2komentar

Seni Kriya Batik Cap

|
Read More »
Seni Kriya Batik Cap
Ada masanya permintaan akan Seni Kriya kain batik begitu tinggi, sementara kapasitas produksi Seni Kriya batik tulis tidak bisa memenuhinya karena keterbatasan sumber daya manusia maupun prosesnya sendiri yang memakan waktu lama. Kekurangan pasokan Karya seni kriya batik ini kemudian memunculkan ide untuk membuat Karya seni kriya Batik Cap. Pemikirannya, motif batik bisa dibuat lebih cepat secara berulang dengan menggunakan cap atau stempel motif batik.

Penggunaan cap batik ini telah dicatat oleh Thomas Stamford Raffles saat ia menjadi gubernur jendral Inggris di Jawa (1811-1816). Saat itu, yang digunakan adalah stempel dari kayu, untuk menempelkan bahan warna nabati pada kain. Namun warna kain dengan cap memakai cara ini tidak tahan lama. Sebelum masa itu konon pernah dipakai juga stempel dari potongan melintang umbi besar. Pada potongan itu diukirkan motif yang akan distempel. Umbi dicelupkan ke cairan malam (lilin batik) dan dicapkan ke kain. Cara ini juga tidak efektif karena stempelnya tidak tahan lama dan garis malamya tidak rata. Kemudian berkembang stempel kayu, lalu stempel kayu dengan pasak-pasak kecil yang dipakukan untuk membuat garis-garis. Namun ternyata pasak ini lebih cocok untuk membuat isen-isen (pengisi) berupa titik-titik.

Sekitar tahun 1845, mulailah diperkenalkan cap dari tembaga. Garis-garis motif dibuat dari alur-alur tipis plat tembaga, yang dipatri dengan timah ke kerangka yang kemudian diberi gagang besi. Teknik ini mirip cara yang dipakai para perajin emas dan perak China, sehingga diduga teknik cap tembaga pada batik ini dibawa oleh para pedagang China. Ukuran capnya masih kecil, sekitar 10x10 cm. Penemuan pasak-pasak penanda titik hubung di keempat sudut cap agar pola batik itu bisa diulang - ulang dengan sempurna oleh tukang pencapnya, baru ditemukan sekitar tahun 1930.

Meski cap dari tembaga ini jauh lebih mahal, namun hingga sekarang terus digunakan, karena motif yang dihasilkannya lebih akurat, tembaga mudah dibentuk untuk membuat berbagai detil motif dan berbagai ukuran, serta tahan lama. Usia cap tembaga ini bisa mencapai 10 tahun, asal disimpan dengan baik dan cap tidak patah atau rusak. Dengan ditemukannya teknik cap, mulailah kaum laki-laki turut mengerjakan produksi kain batik.

cara pembuatan batik cap

Sebelumnya, membatik adalah pekerjaan kaum perempuan. Produksi batik cap pun semakin berkembang di Indonesia khususnya di Jawa Tengah, dengan jumlah perajin terbanyak ada di Pekalongan, disusul Solo, Yogyakarta, Lasem, dan kota-kota lain di Jawa seperti Cirebon, Tasikmalaya dan Bandung. Jumlah perajin cap di Pekalongan saat ini kurang dari 50 orang, karena sebagian besar pindah ke beberapa kota termasuk ke Jawa Timur, Bali, dan kota-kota lainnya.

Cara Pembuatan Batik Cap

Meski cap dapat mempercepat proses pembuatan karya seni kriya batik, pembuatan capnya sendiri tidaklah sesederhana yang kita pikirkan. Butuh waktu yang lama dan memerlukan banyak langkah, serta tentu perajin cap yang mumpuni. Langkah awal pembuatan cap dimulai dengan mendesain motif batik cap, dengan cara membuat sketsa desain secara manual pada kertas roti atau kertas kalkir, maupun dengan bantuan teknologi desain grafis pada komputer. Biasanya motif geometris dibuat dengan komputer, sebab motif ini mudah diulang dengan ‘copypaste’. Motif yang meliuk-liuk seperti flora dibuat secara manual, sebab motif ini memiliki detail yang lebih rumit dan lebih tidak terukur.

Langkah berikutnya adalah membuat ancak, yakni rangka dasar untuk pemasangan motif cap. Motif cap akan direkatkan ke rangka ini agar kokoh dan tidak lepas atau bergeser. Membuat matriks rangka ini saja memerlukan keahlian dan ketelitian dalam hal teknik penguncian antar sambungan pelat agar rangka ini kokoh.Kemudian dimulailah membuat motif tembaganya. Ini bagian yang paling menarik, karena kita bisa melihat bagaimana si perajin cap mentransformasi motif yang ada di kertas contekan menjadi motif dari potongan-potongan pelat tembaga. Melihat bagaimana ia mengukur panjang pelat dengan alat jangka, lalu menekuk-nekuknya dengan pinset besi agar sesuai dengan liukan pola di kertas, akan membuat kita terkagum-kagum. Saat melihat bagian ini pula, umumnya timbul keinginan untuk bisa menirukan cara si perajin dalam mengukur dan menekuk pelat. Dan memang, untuk bisa memahami dan menghargai cara membuat cap ini, satu-satunya cara adalah melihat dan mempraktekkannya langsung.

Setelah membentuk motif besarnya, pekerjaan selanjutnya adalah mengisi ruang-ruang kosong di antara motif tembaga itu dengan pola tutul (titik-titik) menggunakan logam seng yang dibentuk menyerupai sisir. Batang-batang ‘sisir’ yang lancip menghadap ke atas dan memenuhi ruang kosong yang diisinya. Berikutnya, perajin membuat pola tembokan –bagian motif yang seluruhnya ditutup malam– lalu pola bajelan, yang berfungsi sebagai pengganjal agar motif yang sudah terpasang tetap kokoh di tempatnya. Bagian membuat motif tembaga ini membutuhkan waktu paling lama, karena si perajin harus menyelesaikan semua lekukan, sambungan, dan juga titik-titik sesuai motif di kertas.

Pekerjaan membuat cap belum selesai sampai di sini. Masih banyak tahapan lain sampai cap itu benar-benar siap dipakai. Berikutnya adalah membuat siwer, bagian penghubung untuk melekatkan gagang cap dengan rangka ancak. Gagang cap ini juga mesti dibuat secara manual dari besi. Lalu pemasangan titik pengulangan motif (sentil), dan pematrian motif serta seluruh sambungan dan celah di dalam cap menggunakan campuran patri dan bubuk besi. Cap kemudian dibakar dalam arang membara agar sambungan patri ini mengeras dan cap pun kokoh. Proses berikutnya adalah penataan, yakni pencabutan kembali kuncian-kuncian sementara pada rangka cap, karena kini motif cap sudah permanen oleh pematrian. Si perajin kemudian menuang cap dengan cairan gondorukem panas, yang akan mengeras dalam dua jam. Permukaan cap yang tertutup gondorukem padat ini digosok dengan logam bergerigi seperti gergaji, sampai motifnya terlihat kembali dengan lebih mengilat dan rata di seluruh permukaan. Cap dipanaskan lagi di dalam wajan untuk mencairkan gondorukem, hingga diperolehlah cap hasil akhir dengan bagian motifnya yang mengilat dan rata.
Terakhir, dilakukan tes cap pada kain atau kertas. Jika hasil cap belum rata atau motifnya ada yang kurang jelas ataupun garisnya terputus, dilakukan lagi pengulangan dari tahap penuangan gondorukem. Jika hasil cap sudah seperti yang diharapkan, barulah cap itu siap dipakai.

Antara Harga dan Sumberdaya

Lama waktu untuk membuat cap tergantung dari detil motif. Untuk ukuran cap standar 18X18 cm dengan motif yang tidak terlalu rumit, dibutuhkan 10-15 hari. Jika motifnya rumit, bisa sampai 3 minggu. Tak heran jika harga cap ini relatif mahal. Harga satu cap ukuran standar bisa mencapai Rp 1-1,5 juta, sudah termasuk biaya perbaikan desain motif. Kalau capnya saja Rp 600-850 ribu. Harga lempengan tembaga sendiri, yang dibeli perajin di daerah Tegal atau Pekalongan, sekitar Rp 125-130 ribu per kilogram.

cara pembuatan batik cap

Pendidikan khusus untuk mencetak ahli pembuat karya seni kriya batik cap ini belum ada di sekolah-sekolah umum maupun kejuruan. Yang ada hanyalah belajar di lingkungan keluarga secara turun-temurun atau dari perajin batik senior yang mau berbagi pengalaman. Biasanya, perajin batik yang masih baru akan mendatangkan pembuat cap dari sentra perajin cap seperti Pekalongan untuk memberikan kursus ke beberapa karyawan pembatik baru sampai mereka mahir. Nanti para karyawan ini menularkan ilmunya kepada karyawan lain yang memiliki keinginan untuk belajar. Begitulah seterusnya sehingga perajin cap ini terus bertambah dan keahlian ini tidak punah.

Disadur dari majalah Batik edisi Mei 2013

Seni Kriya Batik Cap

Posted by : almira cinta
Date :
With 0komentar

Seni Kriya

|
Read More »
Seni Kriya

Seni kriya adalah karya seni yang dibuat dengan keterampilan tangan (hand skill) dengan memperhatikan aspek fungsional dan nilai seni sehingga Seni kriya termasuk dari karya senirupa terapan nusantara. Penciptaan karya seni kriya tidak hanya didasarkan pada aspek fungsionalnya (kebutuhan fisik) saja, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan terhadap keindahan (kebutuhan emosional). 
Dalam perkembangannya, karya seni kriya selalu identik dengan seni kerajinan. Hal ini disebabkan pembuatan karya seni kriya yang tidak lepas dari pengerjaan tangan (hand made) dan memiliki aspek fungsional.
Tradisi membuat benda-benda seni kriya telah ada sejak zaman prasejarah. Dari temuan-temuan benda prasejarah diketahui bahwa manusia mulai menetap pada zaman Batu Muda (Neolitikum). Mereka telah mulai membuat benda fungsional untuk menunjang aktivitas mereka sehari-hari. Salah satunya adalah tembikar yang terbuat dari tanah lempung yang berfungsi sebagai wadah. Tembikar pada zaman ini telah memiliki hiasan berupa simbol-simbol atau lambang-lambang kehidupan spiritual yang dipercaya oleh masyarakat.
Dalam perkembangan selanjutnya, seni kriya mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan ini tidak hanya pada aspek fungsi semata tetapi berimbas pada peningkatan kualitas bentuk dan bahan serta corak hiasannya. Pada awalnya benda-benda tersesebut memiliki bentuk yang sederhana berkembang menjadi bentuk-bentuk yang beraneka ragam dan rumit. Demikian juga dengan hiasan yang semakin banyak, detail, dan bervariasi.

Pengertian Seni Kriya

Istilah "seni kriya‟ berasal dari akar kata "krya‟ (bahasa Sanskrta) yang berarti "mengerjakan‟; dari akar kata tersebut kemudian menjadi kata : karya, kriya, kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek. Dalam pengertian berikutnya semua hasil pekerjaan termasuk berbagai ragam keteknikannya disebut "seni kriya‟.(Timbul Haryono,2002).
Kata "kriya‟ dalam bahasa Indonesia berarti pekerjaan (kerajinan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft yang mengandung arti: energi atau kekuatan, arti lain suatu ketrampilan mengerjakan atau membuat sesuatu. Istilah itu diartikan sebagai ketrampilan yang dikaitkan dengan profesi seperti yang terlihat dalam craftsworker (pengrajin).
Pada kenyataannya seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang; sebagaimana diketahui bahwa semua kerja dan ekspresi seni membutuhkan ketrampilan. Dalam persepsi kesenian yang berakar pada tradisi Jawa, dikenal sebutan kagunan. Di dalam Kamus Bausastra Jawa, kagunan adalah Kapinteran/ Yeyasan ingkang adipeni/Wudharing pambudi nganakake kaendahan-gegambaran, kidung ngukir-ukir.
Penjelasan itu menunjukan posisi dan pentingnya ketrampilan dalam membuat (mengubah) benda sehari-hari, di samping pengetahuan dan kepekaan (akan keindahan). Oleh sebab itu, sebuah karya (seni) dalam proses penggarapannya tidak berdasarkan pada kepekaan dan ketrampilan yang baik (mumpuni), maka tidak akan ada kesempatan bagi kita untuk mnikmati karya tersebut sebagai karya seni ( I Made Bandem, 2002 ).

Fungsi Seni Kriya

Fungsi seni kriya sebagai salah satu karya seni rupa secara garis besar terbagi atas tiga golongan, yaitu sebagai berikut.

1. Hiasan (dekorasi)

Banyak produk seni kriya yang berfungsi sebagai benda pajangan. Seni kriya jenis ini lebih menonjolkan segi rupa daripada segi fungsinya sehingga bentuk-bentuknya mengalami pengembangan. Misalnya, karya seni ukir, hiasan dinding, cinderamata, patung, dan lain-lain.

2. Benda terapan (siap pakai)

Seni kriya yang sebenarnya adalah seni kriya yang tetap mengutamakan fungsinya. Seni kriya jenis ini mempunyai fungsi sebagai benda yang siap pakai, bersifat nyaman, namun tidak kehilangan unsur keindahannya. Misalnya, senjata, keramik, furnitur, dan lain-lain.

3. Benda mainan

Di lingkungan sekitar sering kita jumpai produk seni kriya yang fungsinya sebagai alat permainan. Jenis produk seni kriya seperti ini biasanya berbentuk sederhana, bahan yang digunakan relatif mudah didapat dan dikerjakan, dan harganya juga relatif murah. Misalnya, boneka, dakon, dan kipas kertas.

Jenis-jenis seni kriya

Bentuk karya seni kriya Nusantara amat beragam. Beragam pula bahan alam yang digunakan. Dari sejumlah seni kriya Nusantara, ada yang tetap mempertahankan ragam hias tradisional dan ada pula yang telah dikembangkan sesuai dengan tuntutan pasar.
Jenis-jenis seni kriya menurut bahan yang digunakan dapat kita bagi sebagai berikut :

a. Kriya Kayu

Kriya kayu ialah suatu bidang kriya yang pekerjaannya membuat benda yang mempunyai nilai fungsional maupun hias dengan menggunakan bahan kayu. Dalam kriya kayu, terdapat pekerjaan tingkat dasar yang merupakan tingkat permulaan. Kayu banyak sekali menghasilkan berbagai benda kerajinan, seperti topeng, wayang golek, furnitur, patung dan hiasan ukir-ukiran.



kriya kayu
Miniatur kendaraan dari kayu

kriya kayu
Gantungan Kunci dari kayu

b. Seni kriya tekstil

Istilah tekstil dewasa ini sangat luas dan mencakup berbagai jenis kain yang dibuat dengan cara ditenun, diikat, dipres dan berbagai cara lain yang dikenal dalam pembuatan kain. Kain umumnya dibuat dari serat yang dipilin atau dipintal guna menghasilkan benang panjang untuk ditenun atau dirajut sehingga menghasilkan kain sebagai barang jadi. Ketebalan atau jumlah serat, kadar pilihan, tekstur kain, variasi dalam tenunan dan rajutan, merupakan faktor yang mempangaruhi terciptanya aneka kain yang tak terhitung macamnya.
Keragaman karya seni tekstil bisa dilihat dari jenis, teknik, ragam hias, dan bahan yang digunakan. Jenis kriya tekstil di Nusantara bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu karya batik dan karya tenun

Kriya tekstil

c. Kriya keramik

Bahan dasar keramik adalah tanah liat. Benda keramik dibentuk dengan berbagai teknik, antara lain teknik cetak, lempeng, pijit, dan pilin. Setelah dibentuk, kemudian diberi hiasan. Jika sudah melalui proses pengeringan, dibakar dengan suhu tertentu.
Keramik diproduksi untuk benda-benda hias atau benda pakai dengan keragaman variasi bentuk, misalnya guci, pot bunga, vas bunga, dan sebagainya. Daerah-daerah penghasil keramik tersebar luas di Nusantara, antara lain di Yogyakarta, Malang, Cirebon, dan Purwokerto.

kriya keramik

d. Kriya logam

Kriya logam adalah kriya yang mengolah logam menjadi berbagai macam benda kerajinan. Mengolah logam biasanya dengan cara mengecor logam panas dengan cetakan. Cetakan ini bisa terbuat dari tanah liat, gips, pasir, atau logam juga.
Kriya logam menggunakan bahan jenis logam, seperti emas, perak, perunggu, besi, tembaga, aluminium, dan kuningan. Produk yang dihasilkan, misalnya perhiasan emas dan perak, patung perunggu, senjata tajam, peralatan rumah tangga, dan alat musik gamelan. Sekarang kriya logam dibuat dengan berbagai variasi bentuk.
Teknik membuat kriya logam ada dua, yaitu teknik a cire perdue dan teknik bivalve.
  • Teknik a cire perdue atau cetakan lilin, caranya adalah membuat bentuk benda yang dikehendaki dengan lilin. Setelah membuat model dari lilin, model tersebut ditutup dengan menggunakan tanah, kemudian dibuat lubang dari atas dan bawah. Setelah itu, cetakan dibakar sehingga lilin yang terbungkus dengan tanah akan mencair, dan keluar melalui lubang bagian bawah. Untuk selanjutnya melalui lubang bagian atas dimasukkan cairan perunggu. Apabila sudah dingin, cetakan tersebut dipecah sehingga keluarlah benda yang diinginkan.
  • Teknik bivalve atau setangkap, caranya yaitu menggunakan cetakan yang ditangkupkan dan dapat dibuka sehingga setelah dingin cetakan tersebut dapat dibuka, maka keluarlah benda yang dikehendaki. Cetakan tersebut terbuat dari batu atau kayu.
kriya logam

    e. Kriya kulit

    Kriya kulit adalah jenis karya seni yang bahan bakunya menggunakan kulit. Kulit yang digunakan adalah kulit kerbau, sapi, kambing, buaya, dan ular. Kulit tersebut sebelum dipakai terlebih dahulu mengalami proses pengolahan yang panjang yaitu mulai dari pemisahan dari daging satwa, pencucian dengan cairan tertentu, pembersihan, perendaman dengan zat kimia tertentu (penyamakan), pewarnaan dengan warna yang diinginkan, perentangan supaya tidak mengkerut, pengeringan, dan penghalusan. Setelah itu, kulit baru dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang ditentukan.
    Hasil kriya kulit berupa tas, sepatu, wayan kulit, ikat pinggang, pakaian (jaket), dompet, tempat HP, dan alat musik rebana. Daerah penghasil kriya kulit antara lain Garut, Yogyakarta, dan Bali.
    kriya kulit

    f. Kriya batu

    Batu yang memiliki tekstur keras dan cenderung kaku untuk dibentuk ternyata dapat diolah menjadi seni kerajinan yang indah. Salah satunya berasal dari daerah Sukaraja, Sukabumi. Di daerah ini dapat dijumpai berbagai material batu yang telah diolah menjadi hiasan dan dekorasi rumah. Ada batu akik, jesper, fosil, dan batu-batu permata lainnya yang dibentuk menjadi hiasan dengan motif flora dan fauna.

    kriya batu

    kriya batu

    Sedangkan jenis-jenis seni kriya berdasarkan teknik pembuatannya bisa kita bagi sebagai berikut :

    1. Kriya Pahat atau Kriya Ukir

    Jenis, bentuk, bahan, dan teknik dalam seni pahat sangat beragam, dari jenis ukir, patung, dan aneka kerajinan lainnya. Seni pahat selain menggunakan bahan kayu, juga menggunakan batu, aneka logam, emas, serta tulang dan kulit hewan. Bali merupakan daerah yang banyak menghasilkan seni pahat berupa ukiran, patung, hingga barang-barang kerajinan. Patung arca dengan bahan batu andesit juga dibuat di Bali. Bentuknya menyerupai benda-benda purbakala.
    Salah satu hasil dari seni pahat yang unik adalah wayang kulit dan wayang beber yang terbuat dari kulit binatang, serta wayang golek yang terbuat dari kayu. Kerajinan wayang kulit dan wayang beber terdapat di daerah Yogyakarta, Surakarta, dan Sragen. Sedangkan wayang golek banyak diproduksi di Jawa Barat.
    Di Jepara (Jawa Tengah) tersohor dengan seni ukir khas Jawa. Daerah lain di Jawa penghasil seni pahat dalam bentuk topeng, patung, ukiran, dan lain-lain adalah Kudus, Bojonegoro, dan Cirebon. Seni patung Suku Asmat dan Kamoro di Papua terkenal dengan kekhasannya, dengan bentuk dan ukuran yang beragam.
    Di Palembang, karya ukir kayu juga diwujudkan pada perabot rumah tangga dengan ciri khas menggunakan warna emas dan cokelat tua. Di Sumatra Utara, seni pahat masyarakat Batak selain berupa ukiran hias pada bangunan rumah adat, juga terdapat pada benda-benda yang berfungsi sebagai perlengkapan ritual.

    kriya ukir

    2. Kriya batik

    Proses pembuatan kain batik dapat dilakukan dengan teknik tulis, teknik cap, dan teknik lukis. Teknik batik tulis merupakan teknik yang paling banyak diterapkan di Indonesia. Selain di Jawa, batik juga terdapat di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Bali. Corak kain batik setiap daerah beraneka ragam. Corak batik Jawa umumnya bergaya naturalis dengan sentuhan warna-warna yang beragam. Corak batik pesisir umumnya menunjukkan adanya pengaruh asing. Pekalongan merupakan penghasil batik yang terkenal dan termasuk dalam golongan batik pesisir. Daerah batik bercorak pesisir yang lain adalah Madura, Tuban, dan Cirebon. Batik daerah ini didominasi perpaduan warna yang kontras, seperti merah, kuning, cokelat, dan putih. Sedangkan Batik Solo, Yogyakarta, dan sekitarnya umumnya menggunakan warna-warna redup, seperti cokelat, biru, hitam, dan hijau.

    3. Kriya tenun

    Indonesia adalah salah satu negara penghasil tenun terbesar terutama dalam hal keragaman corak hiasannya. Ada dua jenis tenun, yaitu tenun ikat dan tenun songket. Yang membedakan keduanya adalah pada teknik pembuatan dan bahan yang digunakan. Pada songket ada tambahan benang emas, perak, atau benang sutra. Daerah yang terkenal sebagai penghasil tenun ikat, antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi, Bali, Sulawesi Tengah, Toraja (Sulawesi Selatan), Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, NTT, Flores, dan Maluku. Sedangkan penghasil songket yang terkenal, antara lain Aceh, Sumatra Barat, Riau, Palembang, Sumatra Utara, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Nusa Tenggara, dan Maluku. Kriya tenun kebanyakan dipakai untuk selendang, sarung, kebaya, dan ikat kepala seperti pada pakaian adat. Bahan yang dipakai untuk membuat kain tenun ditentukan oleh ketersediaan alam daerah setempat. Di Sumbawa (NTT) semua produk kain tenun dibuat dari benang kapas. Kain songket berbahan benang sutra dapat dijumpai di Aceh, Sumatra Barat, Palembang, dan Bali, sedangkan yang berbahan dasar benang katun dapat dijumpai di Flores.

    kriya tenun

    4. Kriya anyaman

    Kriya anyaman di Indonesia sangat beragam, baik jenis, bahan, maupun bentuknya. Bahan untuk membuat anyaman kebanyakan dari kulit bambu, batang rotan, dan daun pandan. Bahan-bahan alam lainnya adalah pelepah pisang, enceng gondok, dan serat kayu.
    Teknik pembentukan anyaman adalah dengan memanfaatkan jalur lungsi (vertikal), jalur pakan (horizontal), dan jalur gulungan diagonal). Pembentukan pola motif anyaman diperoleh dengan cara memanfaatkan perbedaan warna.
    Kriya anyaman yang tersebar diNusantara terdiri atas bentuk-bentuk tradisional yang masih bertahan, pengembangan dari bentuk-bentuk tradisional, hingga bentuk-bentuk desain baru. Tasikmalaya (Jawa Barat) adalah salah satu pusat kerajinan anyaman dari berbagai bahan dan bentuk. Di Halmahera (Maluku) rotan diproduksi menjadi tas punggung. Di Papua, anyaman dapat ditemukan pada produksi gelang khas masyarakat Papua yang terbuat dari serat kayu dan batang anggrek hutan.

    kriya anyaman

    kriya anyaman

    5. Kriya Bordir

    Bordir merupakan kerajinan rakyat yang memerlukan ketekunan dan ketelatenan dalam pengerjaannya. Kerajinan ini telah tumbuh di beberapa daerah dengan motif dan rancangan khas daerah masing-masing. Awalnya kerajinan ini berkembang untuk memenuhi kebutuhan pakaian kebaya wanita yang merupakan pakaian nasional Indonesia, tetapi adanya perkembangan dan penggunaan yang semakin meluas kerajinan ini menjadi bagian dari ciri khas motif pakaian untuk sholat seperti mukena, baju koko, dan selendang.

    kriya bordir

    Pada kesempatan lain kami akan mencoba membagikan secara lebih terperinci satu persatu dari berbagai jenis seni kriya diatas, semoga kami ada kesempatan.
    Artikel Karya Senirupa terapan seni kriya diatas disadur dari berbagai sumber, salam senirupa

    Seni Kriya

    Posted by : almira cinta
    Date :
    With 0komentar

    Karya Seni Kriya Nusantara

    |
    Read More »
    karya seni kriya nusantara
    Bahan cara membuat seni kriya

    Pengertian

    Seni Kriya adalah Bidang keilmuan yang mempelajari pengetahuan, keterampilan dan kreatifitas berkarya rupa, yang bertolak dari pendekatan medium, kepekaan estetik, kebutuhan keseharian (utiliatrian) dan mengandalkan keterampilan manual. Seni kriya juga adalah merupakan salah satu dari karya senirupa terapan yang proses pembuatannya lebih mengutamakan fungsi dan kegunaan.
    Seni kriya (seni kerajinan tangan, handycraft) dapat diartikan, suatu bentuk/karya yang dikerjakan secara manual atau dibantu dengan alat lain sebagai benda yang berguna bagi kepentingan manusia.
    Hasil karya kriya diutamakan mengandung nilai keunikan konseptual, tema, imajinatif, emosional dan inderawi (visual, tactile, olfactory). Kriya juga merupakan metoda berkarya sekaligus mendesain produk yang mengutamakan nilai kualitas estetika, fungsional, keunikan, tema, makna dan pesan filosofis.
    Penciptaan karya seni kriya tidak hanya didasarkan pada aspek fungsionalnya (kebutuhan fisik) saja, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan terhadap keindahan (kebutuhan emosional). Dalam perkembangannya, karya seni kriya selalu identik dengan seni kerajinan. Hal ini disebabkan pembuatan karya seni kriya yang tidak lepas dari pengerjaan tangan (hand made) dan memiliki aspek fungsional.

    Perkembangan Seni Kriya di Nusantara

    Seni kriya Nusantara di indonesia dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok fase perkembangan :
    1. Seni Kriya Tradisional Klasik (Hindu-Budha)
    2. Seni Kriya Tradisional Rakyat (Daerah), dan 
    3. Seni Kriya Indonesia Baru (Kolonial)
     Seni Kriya Tradisional Klasik (Hindu-Budha) :
    • Kaidah seni dibakukan dalam pedoman seni oleh empu atau seniman.
    • Mutu seni, yang bersifat teknik maupun estetik dilandasi oleh pemikiran falsafah hidup dan pandangan agama Hindu, Budha, Islam.
    • Contoh karya seni kriya pada masa ini adalah batik, pandai emas dan perak, ukiran kayu, keris, wayang kulit dan wayang golek, dan kerajinan topeng
    wayang dan keris

    Seni Kriya Tradisional Rakyat (Daerah)
    • Ciri-ciri dari kebudayaan etnik menghasilkan corak kesenian tradisional sesuai dengan watak masyarakat, adab kehidupan, dan lingkungan alamnya
    • Pembuatan dan jenis seni kriya tradisional ditentukan oleh bahan yang tersedia di lingkungan tempat tinggal.
    • Karya seni kriya tradisional rakyat yaitu : anyaman, gerabah, logam, dan topeng yang masih bertahan
           Ciri - ciri karya seni kriya tradisional rakyat :
    • kebudayaan etnik
    • corak tradisional
    • watak masyarakat
    • adab kehidupan
    • lingkungan alamnya
    Seni kriya tradisional

    Seni Kriya Indonesia Baru (Kolonial)
    • Pada zaman kolonial pendidikan mementingkan nilai-nilai rasional dan kehidupan jasmaniah.
    • Kesadaran nilai-nilai luhur terhadap nilai-nilai tradisional seni kriya menjadi lemah, baik yang klasik maupun kriya rakyat
    • Beberapa karya kriya indonesia baru yang dipadukan dengan seni tradisi dan bahan industri
              ciri-ciri karya indonesia baru :
    • kehilangan nilai tradisi dan nilai klasik
    • komersialisasi yang melanda para kriyawan. keahlian para seniman klasik tidak diwariskan
    • saingan dari benda pakai hasil produksi industri
    karya seni kriya 3 dimensi

    Fungsi Seni Kriya

    Sebagaimana kami sampaikan diatas bahwa seni kriya adalah merupakan salah satu dari karya senirupa terapan dimana proses pembuatannya memiliki tujuan dan fungsi tertentu. Fungsi seni kriya secara garis besar terbagi atas tiga golongan, yaitu sebagai berikut.

    1. Seni Kriya sebagai Hiasan (dekorasi)

    Banyak produk seni kriya yang berfungsi sebagai benda pajangan. Seni kriya jenis ini lebih menonjolkan segi rupa daripada segi fungsinya sehingga bentuk bentuknya mengalami pengembangan. Misalnya, karya seni ukir, hiasan dinding, cinderamata, patung, dan lain-lain.

    2. Seni Kriya sebagai Benda terapan (siap pakai)

    Seni kriya yang sebenarnya adalah seni kriya yang tetap mengutamakan fungsinya. Seni kriya jenis ini mempunyai fungsi sebagai benda yang siap pakai,bersifat nyaman, namun tidak kehilangan unsur keindahannya. Misalnya, senjata, keramik, furnitur, dan lain-lain.

    3. Seni Kriya sebagai Benda mainan

    Di lingkungan sekitar sering kita jumpai produk seni kriya yang fungsinya sebagai alat permainan. Jenis produk seni kriya seperti ini biasanya berbentuk sederhana, bahan yang digunakan relatif mudah didapat dan dikerjakan, dan harganya juga relatif murah. Misalnya, boneka, dakon, dan kipas kertas.

    Jenis-jenis Seni Kriya

    Jenis-jenis seni kriya banyak sekali dan sangat mudah ditemukan di berbagai daerah. Berdasarkan dimensinya, jenis-jenis seni kriya dapat dibedakan sebagai berikut.

    1. Seni kriya dua dimensi

    Karya seni kriya dua dimensi meliputi sulaman, bordir, mozaik, kolase, batik, tenun, relief, dan hiasan dinding.

    2. Seni kriya tiga dimensi

    Karya seni kriya tiga dimensi meliputi sebagai berikut.

    a. Kriya keramik
    Kerajinan keramik menggunakan bahan dasar tanah liat. Produk yang dihasilkan, misalnya vas
    bunga, guci, teko, kendi, dan peralatan rumah tangga.

    seni kriya keramik

    b. Kriya logam
    Kerajinan logam menggunakan bahan jenis logam, seperti emas, perak, perunggu, besi, tembaga, aluminium, dan kuningan. Produk yang dihasilkan, misalnya perhiasan emas dan perak, patung perunggu, senjata tajam, peralatan rumah tangga, dan alat musik gamelan. Sekarang kerajinan logam dibuat dengan berbagai variasi bentuk.

    seni kriya logam

    c. Kriya kulit
    Kulit banyak digunakan untuk membuat berbagai benda kerajinan, seperti wayang kulit, tas, sepatu, jaket, dan alat musik rebana.
    seni kriya kulit

    d. Kriya kayu
    Kayu banyak menghasilkan berbagai benda kerajinan, seperti topeng, wayang golek, furnitur, patung, dan hiasan ukir-ukiran.

    seni kriya kayu

    e. Kriya anyaman
    Kerajinan anyaman biasanya menggunakan bahan dasar, seperti bambu, daun mendong, dan tali plastik untuk membuat tempayan, topi, tutup nasi, tikar, dan gantungan pot tanaman.
    seni kriya anyaman

    Disadur dari berbagai sumber.
    salam senirupa

    Karya Seni Kriya Nusantara

    Posted by : almira cinta
    Date :
    With 0komentar

    Bahan, Alat dan Formula Kriya Fiber Glass

    |
    Read More »
    Bahan, Alat dan Formula Kriya Fiber Glass
    Contoh Karya Seni Kriya

    Bahan, Alat dan Formula Kriya Fiber Glass

    Fiber Glass merupakan salah satu bahan yang sudah tidak asing lagi bagi dunia senirupa dalam berkarya senirupa dibidang 3 dimensi. Menggunakan bahan fiber glass dalam berkarya senirupa 3 dimensi tentunya menggunakan teknik cetak. dan banyak sekali yang bisa dibuat menjadi karya senirupa 3 dimensi yang sangat menarik, baik karya senirupa murni seperti patung, ataupun sebagai karya senirupa terapan sebagai benda hias atau benda pakai. itu semua tergantung dari kreatifitas dari seniman pembuatnya. Berikut berbagai alat dan bahan yang sering digunakan untuk berkarya seni (patung, kriya) atau barang seni pakai dengan teknik cor atau cetak sebagai berikut :

    Bahan:

    1. Resin
    2. Cobalt
    3. Catalis
    4. Fiber Glass (MAT)
    5. White on /talk
    6. Pewarna resin
    7. Aeorisil
    8. Plastisin
    9. Vaselin
    10. Wax
    11. Langsol
    12. Silicon Ruber atau lateks
    13. Catalis silicon
    14. Oil silicon
    15. Aseton
    16. Herin Solvent,
    17. Tinner
    Alat:
    1. Kwas (kecil,sedang,besar)
    2. Bejana plastic atau karet (yang mudah mengelupaskan bahan sisa resin kering)
    3. Takaran (sejenis gelas ukuran)
    4. Spatula
    5. Masker (mengurangi bau dari uap resin)
    6. Water pass
    7. Alat pengaduk ukuran kecil,sedang,besar bergantung keperluan
    8. Alas kaca (untuk memudahkan pembuangan sisa yang menetes)
    9. Palu (untuk mendaur ulang bahan sisa sebagai isian)
    10. Lap


    Bahan Resin

    Resin merupakan bahan utama karena bahan inilah yang akan dikeringkan menjadi bentuk sesuatu yang kita kehendaki atau bentuk jadi sebuah karya. Proses pengeringan terjadi karena adanya zat kimia katalis (fungsi mempercepat reaksi) yang dicampurkan ke dalam resin. waktu pengeringan tergantung persentase atau jumlah katalis yang dicampurkan ke dalam resin. semakin banyak menggunakan katalis akan semakin cepat mengering. Sementara tingkat kekerasan karya tersebut adalah dari bahan cobalt (Cobalt Blue atau Cobalt N).
    Jika mengendaki lebih kuat lagi maka diperkuat lagi dengan serat fiber (jenis combo atau biasa). Sesuai dengan kebutuhan resin terdiri dari berbagai jenis diantaranya:

    Macam-macam Resin :

    1. Resin 157 BQTN, resin yang sudah dicampur cobalt blue
    2. Resin 157 BQT, resin yang sudah dicampur cobalt
    3. Resin QTN, resin tanpa campuran cobalt
    4. Resin 1560, resin tanpa campuran cobalt
    5. Resin 150 HRBQTN, resin yang sudah bercampur cobalt
    6. Resin C 101, resin tanpa dicampur cobalt
    7. Resin C 105, resin yang sudah dicampur cobalt (resin bening)
    8. Resin :P-IQ, resin tanpa campuran cobalt
    9. Resin 2250 BWEXL, resin tanpa campuran cobalt
    10. Resin 2252 BWEXQL, resin tanpa campuran cobalt (resin bening)
    Resin yang banyak dipasaran populer dengan istilah resin butek, resin yang dicampur dengan cobalt blue atau resin 157 BQTN. Resin ini yang paling laku dipasaran karena bagi para pemula sekalipun, dapat memudahkan karena cobalt telah bercampur rata. Resin ini biasanya mudah cara pengeringannya dan biasanya cukup baik bila dicampur dengan warna. Resin lainnya yang populer dipasaran adalah resin bening C 105 dan Resin 2252 BWEXQL. Resin 105 diperuntukan unutk benda-benda bening tebal sementara Resin 2252 BWEXQL untuk permukaan yang tipis seperti pelapisan pada foto (Photo glass block).

    Formula :

    Setiap formula bahan resin komponen yang dicampurnya beragam bergantung keperluan dan sebaiknya setiap akan memulai pengerjaan melakukan uji sampel bahan, karena setiap bahan yang dikeluarkan oleh toko bawaan pabrik kadangkala memiliki karakteristik berlainan.
    Sebagai sampel berdasar pengalaman sbb:
    Untuk mencampur resin dengan bahan resin 157 QTN 0,6 Kg, dibutuhkan bahan:
    -Bahan N = 0,6 x 5 cc/kg = 3cc
    -Katalis = 0,6 x 10 cc/kg = 6cc

    Untuk jelasnya lihat table formulasi berikut ini:


    Jenis Resin  Jenis Cobalt  Katalis  Waktu
    Pengeringan 
    N  E  103

    Resin 157 BQTN 
    -  -  -  10 cc  + 45 menit 
    Resin 157 BQT  -  -  -  10 cc  + 45 menit 
    Resin 157 QTN  5 cc  -  -  10 cc  + 45 menit 
    Resin 1560 L  -  -  10 cc  10 cc  + 45 menit 
    Resin 150 HRBBQTN  -  -  -  10 cc  + 45 menit 
    Resin C-101  -  5 cc  -  10 cc  6 jam 
    Resin C-105  -  -  -  4 cc  30 menit 
    Resin LP-IQ  10 cc  -  -  10 cc  + 45 menit 
    Resin 2250 BWEXL  -  -  -  10 cc  + 45 menit 
    Resin 2252 BWEXQL  -  -  -  5 cc  + 45 menit 
    Resin 2141-T  5 cc  -  -  10 cc  + 50 menit 

    Bahan, Alat dan Formula Kriya Fiber Glass

    Posted by : almira cinta
    Date :
    With 0komentar
    ← Prev
    ▲Top▲